Mengenal Puasa Selain Ramadhan

Soal puasa, bukan hanya puasa Ramadhan saja. Selain Ramadhan, umat Islam juga menjalankan banyak jenis puasa lainnya. Ada banyak saran, dan dianjurkan agar umat Islam berpuasa.

Berikut ini empat jenis puasa, jika berpuasa akan mendapatkan pahala, tetapi jika menyerah tidak akan bersalah:

1. Puasa Senin-Kamis


Puasa bagi Muslim Senin-Kamis adalah kebiasaan yang terkenal. Sesuai namanya, puasa cawan suci ini bisa dilakukan pada hari Senin dan Kamis.
Puasa Senin-Kamis digolongkan oleh Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu ke dalam puasa sunah yang disepakati para ulama.

Dari Aisyah r.a berkata: “Adalah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memperbanyak puasa pada hari Senin & Kamis.” (HR. Al-Tirmidzi, Al-Nasi dan Ibnu Majah). Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani.

Puasa ini juga menjadi salah satu ibadah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW pun rutin mengamalkan ibadah ini. Senin dan Kamis adalah hari di mana amalan umat Islam diangkat dan diperlihatkan kepada Allah SWT.

“Dari Abi Hurairoh r.a, dari Rasulullah SAW bersabda: Seluruh amal disetor pada hari Senin dan Kamis, maka aku lebih menyukai saat setor amal tersebut dalam keadaan berpuasa.” (HR. Turmudzi)

Sebelum berpuasa pada hari Senin, wajib melafalkan niat sebagai berikut:

“Nawaitu shouma yaumal itsnaini sunnatan lillaahi ta’aalaa.”

Yang artinya: “Aku berniat puasa sunnah hari Senin, sunnah karena Allah Ta’ala.”

Sedangkan niat untuk berpuasa pada hari Kamis adalah sebagai berikut:

“Nawaitu shouma yaumal khomiisi sunnatan lillaahi ta’aalaa.”

Yang artinya: “Aku berniat puasa sunnah hari Kamis, sunnah karena Allah Ta’ala.”

BACA JUGA  Aturan Umroh Masa Pandemi

2. Puasa Daud


Puasa Daud adalah puasa sunah yang dilakukan oleh nabi Daud a.s. Triknya adalah berpuasa satu hari dan kemudian berpuasa lagi setelah dua hari. Singkatnya, puasa Daud dipisahkan oleh satu hari. Puasa ini disebut puasa tersehat.

Allah paling menyukai hal ini karena dianggap Afrika dan karena menyadari hak beribadah dan hak tubuh. Rasulullah SAW berkata:
“Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Salat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159).

Niat yang harus dilafadzkan sebelum menunaikan puasa Daud ialah sebagai berikut:

“Nawaitu shauma daawuda sunnatal lillahi ta’ala.”

Yang artinya: “Aku berniat puasa Daud, sunah karena Allah Ta’ala.”

3. Puasa Muharram


Puasa Muharram dapat dilaksanakan pada hari kesepuluh dalam bulan Muharram. ‘Asyura’ berasal dari kata ‘asyara’. ‘Asyara’ artinya bilangan sepuluh. Singkatnya, puasa Asyura adalah puasa sunnah yang ditunaikan pada tanggal 10 Muharram pada Kalender Islam Hijriah. Inilah sebabnya puasa Muharram disebut juga puasa Asyura.

Dari Dari Abu Hurairah radhiallahu‘anhu, Rasulullah SAW bersabda :

“Seutama-utamanya salat setelah salat wajib adalah salat pada sepertiga akhir malam, dan seutama-utamanya puasa setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Muharram.” (HR. Muslim).

Sebelum melaksanakan puasa ini, wajib melafadzkan niat sebagai berikut:

“Nawaitu Shauma Ghadin ‘An Syahri ‘Asyura Sunnatan Lillaahi Ta’Ala.”

Yang artinya: “Aku berniat berpuasa besok dari bulan ‘asyura, sunnah karena Allah Ta’ala.

4. Puasa Syaban


Puasa Syaban dilaksanakan pada bulan Syaban. Puasa ini juga disebut untuk melatih sebelum berpuasa 30 hari pada bulan Ramadan. Tak hanya itu, puasa ini juga memiliki keutamaan yakni meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.

BACA JUGA  Mengenal Masjidil Haram Kiblat Umat Islam

Dalam sabdanya, Rasulullah SAW mengatakan bahwa pada bulan Rajab, umat Islam berada dalam kondisi lalai.

“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai, yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i).

Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan, artinya tidak mengandung informasi bohong.

“Nawaitu shauma ghadin ‘an ada ’I sunnati Sya’bana lillahi ta’ala.”

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Sya’ban esok hari karena Allah ta’ala.”

Empat macam puasa sunnah bagi umat Islam tersebut, yang dapat diamalkan sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *