Kalau kamu mengira game terbaru dari kreator di balik Octopath Traveler bakal menyajikan pertarungan bergiliran yang khas, kamu salah besar. Square Enix diam-diam membuang total sistem combat legendaris itu dalam proyek ambisius terbaru mereka, The Adventures of Elliot.
- Demo kedua sudah meluncur di PC, PS5, Xbox Series X/S, dan Nintendo Switch 2
- Progress dan item yang didapat dalam demo akan otomatis terbawa ke game full saat rilis nanti
- Gim ini total meninggalkan combat berbasis giliran dan beralih ke aksi real-time
- Sistem "Magicite Box" hadir untuk memperbaiki keluhan pemain soal gonta-ganti senjata yang lambat
Bukan Lagi Giliran Kamu, Giliran Aku
Kejutan besar ini datang langsung dari Team Asano, studio internal yang selama ini kita kenal lewat estetika HD-2D memukau di seri Octopath Traveler. Visualnya memang masih secantik itu, perpaduan karakter pixel 2D dalam lingkungan 3D yang sinematik. Tapi begitu pedang dihunus, rasanya langsung beda. Tidak ada lagi layar transisi ke arena pertarungan atau menu panjang berisi perintah Attack, Magic, atau Item.
Mereka sekarang mengusung combat real-time yang intens. Bergerak dan menyerang di medan pertarungan yang sama, mekanisme ini jelas mencomot inspirasi langsung dari game aksi legendaris era 16-bit semacam The Legend of Zelda klasik atau seri Mana. Ini bukan sekadar evolusi kecil, ini sebuah deklarasi ulang total soal bagaimana sebuah game RPG petualangan dimainkan. Kamu harus baca posisi musuh, menghindar, dan balas menyerang dalam hitungan detik.
Senjata Instan Tanpa Buka Menu, Strategi Gonta-ganti Elemen
Jika dulu kelemahan terbesar game ini adalah keharusan membuka menu untuk mengganti elemen senjata, sekarang hal itu sudah tidak berlaku. Mekanisme "Magicite Box" adalah juru selamatnya. Alih-alih terpaku di layar statis untuk mengutak-atik perlengkapan, kamu bisa menyematkan elemen baru ke pedang atau busur secara instan, bahkan di tengah-tengah baku hantam yang gesit.
Hal ini krusial karena skema pertarungan di sini menuntut eksploitasi kelemahan elemen musuh secara cepat. Dengan total tujuh kelas senjata, mulai dari pedang dan busur standar hingga chain dan sabit, kombinasi serangan menjadi sangat liar. Triknya, tim pengembang juga membekali Elliot dengan kecepatan gerak dasar yang lebih ngebut. User Interface (UI) pun dirombak total agar tidak menghalangi irama eksplorasi dan pertarungan yang serba cepat.
Strategi Bisnis di Balik Aksi Real-Time
Keputusan drastis ini bukan sekadar gimmick biar terlihat keren. Ini adalah kalkulasi matang dari pihak Square Enix. Dengan mengadopsi mekanisme aksi yang lebih lincah dan instan, mereka jelas sedang mengincar gamer di luar basis penggemar fanatik JRPG. Tidak semua pemain punya kesabaran untuk duduk manis memilih komando di menu yang panjang, dan The Adventures of Elliot adalah jawaban untuk mereka yang alergi dengan sistem turn-based yang lambat.
Ini adalah penyeimbang portofolio yang cerdas. Di tengah biaya pengembangan game kelas kakap (AAA) yang seringkali tidak masuk akal, mempertahankan siklus produksi game kelas menengah dengan kualitas premium seperti ini adalah penyelamat arus kas. Biaya produksi lebih terkendali, waktu rilis lebih singkat, namun kualitas estetika HD-2D tetap memanjakan mata selayaknya blockbuster. Bagi Square Enix, ini adalah lindung nilai yang aman dari rollercoaster proyek raksasa yang sering kali memakan waktu bertahun-tahun.
Demo keduanya kini sudah tersedia luas. Angka tanggal 18 Juni telah ditetapkan sebagai jendela rilis global. Buat kamu yang penasaran merasakan aksi tanpa ampun ini di konsol anyar, versi demo ini juga sudah bisa dimainkan di Nintendo Switch 2. Satu hal yang pasti, kamu bisa mulai bertualang sekarang dan langsung melanjutkan progresnya tanpa mengulang dari awal saat gamenya resmi nanti. Harga di etalase Steam untuk versi finalnya terpantau sekitar Rp760 ribuan (€45.99).
Referensi: Square Enix | Notebookcheck

