Pasokan konsol game Xbox Series X dilaporkan semakin langka di berbagai wilayah, terutama di Eropa dan Amerika Latin. Kelangkaan pasar ini membuat sejumlah pengecer mematok harga hingga dua kali lipat dari harga eceran resmi (MSRP). Kondisi ini secara langsung mengancam strategi Microsoft yang kini mencoba kembali mengandalkan judul game eksklusif untuk mendongkrak ekosistem mereka.
Pilihan bagi calon pembeli kini kian terbatas. Tanpa ketersediaan unit konsol game yang memadai di pasaran, kehadiran judul game besar berisiko kehilangan jangkauan pemain secara luas.
Lonjakan Harga Menggila di Eropa dan Amerika Latin
Survei yang dilakukan oleh Jez Corden dari Windows Central mengonfirmasi bahwa ketersediaan Xbox Series X|S hampir menghilang di luar pasar utama berbahasa Inggris. Menurut laporan MondoXbox, pasar Spanyol bahkan sudah tidak menerima pasokan unit konsol selama berbulan-bulan. Kegiatan komunitas seperti FanFest juga tidak lagi digelar di negara tersebut.
Di forum ResetEra, para penggunanya membagikan pengalaman harga yang melambung tinggi. Seorang pengguna asal Swedia dengan nama akun Firmus_Anguis menyebutkan bahwa hanya ada satu pengecer lokal yang menjual unit tersebut. Meski toko resmi Microsoft mencantumkan varian drive disk 1TB seharga 7.770 SEK atau setara Rp13,6 jutaan ($770), pengecer lokal justru menjualnya di kisaran Rp28,3 jutaan ($1,600).
Kenaikan harga resmi yang diberlakukan Microsoft pada 1 Agustus lalu, dari €599.99 (Rp12,3 jutaan) menjadi €799.99 (Rp16,4 jutaan) di sebagian kawasan Uni Eropa, nyatanya tidak menghentikan permainan harga ritel. Pengguna bernama Wandering Through mengungkapkan bahwa peritel terbesar di negaranya bahkan mematok harga hingga €1325.40 (Rp27,2 jutaan). Di Amerika Latin, pengguna media sosial Portuga menyatakan bahwa Microsoft seolah telah meninggalkan pasar Brasil dalam hal ketersediaan perangkat keras, sangat kontras dibandingkan awal generasi konsol ini rilis.
Masalah Komponen Memori dan Dampaknya pada Game Eksklusif
Akar dari krisis pasokan ini sempat diakui Microsoft pada Juni lalu. Perusahaan mengonfirmasi bahwa kelangkaan komponen memori dan penyimpanan menjadi penghambat utama proses manufaktur perangkat. Sayangnya, keterbatasan ini terjadi tepat saat Microsoft mulai memfokuskan kembali strategi rilisan game eksklusif.
Ujian pertama dari strategi ini terlihat pada peluncuran Gears of War: E-Day yang dirilis pada 6 Oktober. Berdasarkan estimasi dari Alinea Analytics, game tersebut hanya berhasil terjual sekitar 230.000 kopi di gabungan platform konsol dan Steam. Angka penjualan yang tergolong kecil ini memberikan indikasi awal mengenai dampak minimnya jangkauan perangkat keras ke tangan konsumen.
Meskipun ketersediaan konsol di Amerika Serikat relatif lebih stabil di toko besar seperti Amazon dan Best Buy, berkurangnya area pajang di toko fisik tetap menjadi indikator mengkhawatirkan. Tanpa landasan perangkat keras yang kuat, kekhawatiran juga mulai membayangi potensi performa pasaran untuk debut proyek masa depan mereka, Project Helix.
Menakar Efektivitas Strategi Konsol Microsoft
Langkah Microsoft untuk mengandalkan game eksklusif tanpa ditopang oleh pasokan konsol yang lancar terasa cukup kontradiktif. Pembatasan pasokan secara tidak langsung mengunci potensi penjualan game terbaru mereka. Peningkatan harga akibat permainan spekulan juga makin memberatkan basis penggemar setia.
Masalah ini harus segera diatasi. Solusi atas krisis komponen memori dan manufaktur harus segera ditemukan oleh Microsoft jika tidak ingin kehilangan pangsa pasar yang lebih luas. Tanpa ketersediaan unit yang wajar di tingkat eceran, strategi game eksklusif berisiko berakhir sebagai langkah yang kurang berdampak di industri gaming global.