Mosseri di Pengadilan: Scrolling 16 Jam, Problematic Use atau Kecanduan Klinis?

instagram-kecanduan-klinis Mosseri membedakan 'problematic use' dan kecanduan klinis; kasus hukum menyorot desain platform dan dampak pada kesehatan mental remaja.

Mosseri di Pengadilan: Scrolling 16 Jam, Problematic Use atau Kecanduan Klinis? (Photo: Meta (Instagram), YouTube)
Mosseri di Pengadilan: Scrolling 16 Jam, Problematic Use atau Kecanduan Klinis? (Photo: Meta (Instagram), YouTube)

Pengadilan yang menargetkan perusahaan platform kini menempatkan desain produk di bawah sorotan. Perdebatan terbaru muncul saat CEO Instagram memberi kesaksian mengenai apakah pola scrolling berjam-jam bisa disebut kecanduan secara medis atau sekadar "problematic use".

Apa inti perbedaan yang diperdebatkan di pengadilan?

Pihak penggugat menyatakan bahwa desain platform—algoritme, mekanisme umpan tanpa akhir, dan notifikasi—mendorong pemakaian kompulsif sejak usia dini. Saksi utama dalam kasus ini menyebut penggunaan intens hingga 16 jam sehari pada remaja yang kini berusia 20 tahun.

Di lain pihak, pimpinan Instagram menolak istilah "kecanduan klinis" untuk menjelaskan pola tersebut. Penjelasan yang diajukan menekankan bahwa penggunaan berlebihan memang mungkin terjadi, tapi diagnosis medis membutuhkan lebih dari sekadar durasi penggunaan; faktor pribadi dan gaya hidup ikut menentukan.

Layar ponsel menampilkan feed Instagram dan scrolling panjang instagram-kecanduan-klinis (Photo: Meta (Instagram), YouTube)
Layar ponsel menampilkan feed Instagram dan scrolling panjang instagram-kecanduan-klinis (Photo: Meta (Instagram), YouTube)

Mengapa istilah itu penting secara hukum dan praktik?

  • Dalam ranah hukum, menyematkan label "kecanduan klinis" mengubah beban pembuktian. Jika terbukti platform menyebabkan kondisi medis, tanggung jawab hukum dan regulasi bisa meningkat.
  • Dalam praktik produk, bila suatu perilaku dianggap hasil desain produk, perusahaan harus menilai ulang mekanik yang mendorong keterlibatan terus-menerus.
  • Bagi pengguna dan keluarga, perbedaan istilah memengaruhi langkah mitigasi: apakah fokusnya pada pengaturan diri atau pada pembuatan kebijakan dan fitur yang lebih aman.

Dampak yang sering muncul dalam diskusi kesehatan mental

Otoritas kesehatan dan beberapa studi akademis telah mengaitkan durasi penggunaan media sosial yang panjang dengan peningkatan angka kecemasan, depresi, gangguan tidur, dan kekhawatiran citra tubuh pada remaja. Poin-poin ini sering dijadikan landasan argumen penggugat untuk menunjukkan adanya hubungan antara desain platform dan hasil kesehatan mental.

Namun harus dipahami bahwa bukti yang ada kebanyakan bersifat asosiasi. Artinya, ada korelasi antara pemakaian lama dan masalah kesehatan mental, tapi hubungan sebab-akibat langsung masih diperdebatkan.

Apa yang sudah dilakukan platform?

  • Pengaturan waktu: Pengingat waktu layar dan fitur limitasi durasi mencoba memberi sinyal pada pengguna untuk berhenti.
  • Fitur keselamatan remaja: Pengaturan akun anak dan kontrol orang tua dimaksudkan untuk memberi alat bagi keluarga.
  • Pengujian pengalaman pengguna: Menyasar uji coba dengan audiens muda agar fitur tertentu diuji dampaknya terhadap kelompok usia sensitif.

Walau begitu, memperkenalkan kontrol tidak otomatis menghilangkan kritik terhadap desain utama produk. Kritik berfokus pada bagaimana mekanisme yang mendorong keterlibatan intens tetap ada, meski tersedia opsi pembatasan.

Implikasi praktis untuk pengguna, orang tua, dan pembuat kebijakan

Bagi pengguna remaja dan keluarga, perdebatan hukum ini menegaskan perlunya pendekatan berlapis: pengaturan aplikasi, pendidikan digital tentang kebiasaan sehat, dan pemantauan pola tidur serta mood. Alat yang tersedia berguna, tetapi efektifitasnya bergantung pada penggunaan dan konteks keluarga.

Pembuat produk harus memperhatikan dua hal: bagaimana algoritme dan fitur memengaruhi perilaku, serta apakah mekanik tersebut mempertimbangkan perkembangan otak remaja. Jika desain mengejar keterlibatan sebagai metrik utama tanpa mitigasi yang nyata, risiko reaksi publik dan regulasi meningkat.

Langkah yang bisa diambil sekarang

  1. Periksa pengaturan waktu dan aktifkan pengingat harian untuk penggunaan aplikasi.
  2. Gunakan kontrol orang tua untuk membatasi akses pada jam malam atau durasi tertentu.
  3. Awasi tanda-tanda perubahan mood, gangguan tidur, atau penurunan minat sosial pada remaja sebagai sinyal intervensi lebih dini.
  4. Dorong pendidikan literasi digital di sekolah agar remaja memahami cara kerja algoritme dan dampaknya.

Kasus ini lebih dari sekadar membahas istilah medis; ia mempertanyakan batas tanggung jawab antara pilihan individu dan desain produk yang mempengaruhi perilaku. Perdebatan di ruang sidang kemungkinan akan memengaruhi cara platform menimbang keterlibatan versus keselamatan pengguna muda.

Untuk sekarang, fokus praktis tetap pada pencegahan dan pengelolaan: fitur yang ada perlu dipakai secara konsisten, keluarga perlu dialog terbuka tentang kebiasaan digital, dan pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan aturan yang menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan.

Perkembangan kasus ini layak diikuti karena hasilnya bisa mengubah lanskap desain produk dan regulasi media sosial dalam beberapa tahun mendatang.