Bayangkan ini: Anda sedang merekam momen penting dari jarak yang agak jauh. Di layar ponsel, subjek Anda terlihat kecil dan kurang menonjol. Anda ingin mendekat, tapi kaki tidak bisa melangkah lebih maju. Di sinilah frustrasi terbesar pengguna kamera saku muncul, dan DJI akhirnya mendengarkan.
Setelah berbulan-bulan digoda lewat teaser dan penampakan di Cannes Film Festival, DJI Osmo Pocket 4 Pro (atau Pocket 4P) akhirnya resmi meluncur. Ini bukan sekadar upgrade minor. Untuk pertama kalinya di lini Pocket, kita mendapatkan lensa telefoto dedicated.
- Lensa telefoto 3x optical zoom: Pertama di keluarga Osmo Pocket, menjawab kebutuhan framing fleksibel dari jarak jauh
- Sensor utama 1 inci f/2.0: Warisan dari Pocket 4, dengan 17 level dynamic range ultra-tinggi
- Layar OLED 2 inci 1.000 nit: Cukup terang untuk pemakaian outdoor di bawah sinar matahari langsung
- Harga mulai Rp 7,6 jutaan: Lebih mahal dari Pocket 4, tapi masih masuk akal untuk kreator yang butuh fleksibilitas lensa ganda
Telefoto 3x: Jawaban Atas Keterbatasan yang Sudah Lama Dikeluhkan

Mari jujur. Lini Osmo Pocket selalu menawarkan stabilisasi gimbal yang sulit ditandingi di kelasnya. Tapi sejak generasi pertama, lensa tunggal wide-angle selalu menjadi kompromi yang harus diterima. Anda bisa merekam pemandangan luas, tapi begitu ingin close-up spontan, Anda kalah fleksibel dengan smartphone flagship yang sudah punya telefoto.
Pocket 4P mengubah persamaan itu. DJI menanamkan kamera telefoto 3x dengan aperture f/1.8 dan focal length ekuivalen 60mm. Format sensornya memang lebih kecil, 1/1,28 inci, dibandingkan sensor utama 1 inci di lensa wide. Tapi trade-off ini masuk akal; Anda tidak bisa menjejalkan optik telefoto dan sensor besar di bodi sekecil ini tanpa mengorbankan portabilitas total.
Yang menarik, lensa telefoto ini punya rentang ISO 100-25.600 untuk foto, dan bisa naik hingga 51.200 di mode video low-light. Secara teori, telephoto ini tidak akan langsung menyerah begitu cahaya mulai redup, sesuatu yang sering terjadi di kamera telefoto smartphone kelas menengah.
Bagi kreator yang sering merekam event, pertunjukan panggung, atau sekadar momen keluarga di taman, kemampuan switch dari wide ke telefoto tanpa pindah posisi adalah penyelamat komposisi yang nyata.
Apa yang Dipertahankan, dan Apa yang Dikorbankan

DJI tidak mengganti semua hal. Sensor utama 1 inci 20mm f/2.0 dari Pocket 4 tetap dipertahankan, lengkap dengan dukungan perekaman slow-motion 4K 240 FPS dan color profile D-Log 2. Baterai juga sama: 1.545 mAh (11,95 Wh) yang di generasi sebelumnya sudah cukup untuk penggunaan seharian secara intermiten.
Layarnya pun tidak berubah, masih panel OLED 2 inci resolusi 556 x 314 piksel dengan kecerahan 1.000 nit. Di kelas kamera saku, ini masih salah satu layar terbaik yang bisa Anda dapatkan. Navigasi menu dan preview footage di bawah terik matahari tetap nyaman.
Namun, ada harga yang harus dibayar secara fisik. Pocket 4P lebih besar dan lebih berat. Modul telefoto beserta gimbal tiga sumbu yang harus mengakomodasi dua lensa membuat bodinya 10% lebih tinggi dan 20% lebih berat di angka 230 gram. Sebagai perbandingan, Pocket 4 standar meluncur dengan bobot sekitar 192 gram.
Apakah ini masih saku-friendly? Tentu, jika saku Anda bukan skinny jeans ketat. Tapi ada baiknya Anda ekspektasikan sedikit lebih "berisi" saat digenggam. Trade-off ini wajar, dan DJI tampaknya paham bahwa audiens Pro mereka rela membawa sedikit beban ekstra demi fleksibilitas optik yang jauh lebih besar.
Harga, Pesaing, dan Siapa yang Paling Butuh Kamera Ini

Di Tiongkok, DJI Osmo Pocket 4P dibanderol mulai CNY 3.799, atau sekitar Rp 7,6 jutaan untuk varian Classic Black dan Pearl White. Ada juga paket Vlog Set seharga CNY 4.299, sekitar Rp 8,6 jutaan, yang menyertakan aksesori tambahan. Sebagai acuan, Pocket 4 reguler saat ini dipatok CNY 2.999, sekitar Rp 6 jutaan di pasar yang sama.
Dengan selisih sekitar Rp 1,6 jutaan, Anda mendapatkan lensa telefoto 3x optical zoom yang sesungguhnya, bukan crop digital dari sensor utama. Bagi vlogger yang sering switching shot, atau kreator konten yang butuh variasi framing tanpa bawa rig besar, selisih harga ini cukup mudah dibenarkan.
Lalu, siapa pesaing alaminya? Kamera aksi seperti GoPro Hero 13 atau Insta360 Ace Pro punya pendekatan berbeda: mereka unggul di ruggedness dan wide-angle ekstrem, tapi tidak ada yang menawarkan lensa telefoto optik dalam bodi segenggam tangan. Di sisi lain, smartphone flagship seperti iPhone 16 Pro atau Samsung Galaxy S25 Ultra memang punya telefoto, tapi tanpa stabilisasi gimbal mekanis yang jadi ciri khas lini Pocket. DJI sedang bermain di ceruk yang mereka ciptakan sendiri.
Untuk saat ini, ketersediaan global Osmo Pocket 4P masih belum diumumkan. Namun melihat pola rilis DJI sebelumnya, biasanya pasar internasional menyusul dalam hitungan minggu atau bulan setelah debut Tiongkok. Jika Anda kebetulan sering bepergian ke negeri tirai bambu, unit early bird bisa jadi buruan menarik.
Referensi: DJI | Notebookcheck



