RunSight: wearable AI Tim Labmino untuk bantu penyandang disabilitas visual berlari mandiri
RunSight wearable untuk penyandang disabilitas visual: alat AI Labmino UI yang memungkinkan lari mandiri, aman, dan mendorong inovasi inklusif.
RunSight wearable untuk penyandang disabilitas visual kini menjadi sorotan setelah Tim Labmino Universitas Indonesia terpilih sebagai duta global pada program Samsung Solve for Tomorrow. Alat ini dirancang dengan pendekatan kecerdasan buatan untuk memungkinkan penyandang disabilitas visual berlari secara mandiri dan lebih aman, sebuah pencapaian yang menempatkan Indonesia di antara negara terpilih di kawasan Asia Tenggara dan Oseania.
Apa itu RunSight dan siapa yang mengembangkannya
RunSight adalah perangkat wearable berbasis AI yang dikembangkan oleh Tim Labmino dari Universitas Indonesia. Solusi ini lahir dari kebutuhan nyata: memberi akses olahraga lari bagi penyandang disabilitas visual dengan fokus pada kemandirian pengguna. Pengembangan berjalan dari ide sampai prototipe yang diuji untuk memastikan relevansi terhadap kondisi lapangan dan kebutuhan komunitas pengguna.
Konsep kerja dan fokus desain
Tim menempatkan prioritas pada beberapa aspek teknis dan praktis: keamanan pengguna saat berlari, kemampuan sistem untuk tetap akurat dalam kondisi gerak cepat, serta efisiensi energi agar perangkat tahan dipakai dalam aktivitas fisik. Selain itu, biaya produksi menjadi perhatian agar solusi lebih mudah diakses oleh khalayak yang membutuhkan.
Manfaat praktis untuk pengguna sehari-hari
RunSight menawarkan beberapa manfaat yang langsung terasa bagi penyandang disabilitas visual yang ingin berlari atau berolahraga di ruang publik atau lintasan. Dalam praktik, perangkat seperti ini tidak hanya soal teknologi, tetapi perubahan aksesibilitas dalam rutinitas olahraga.
- Kemandirian bergerak: pengguna dapat melakukan aktivitas lari tanpa selalu bergantung pada pemandu, sehingga fleksibilitas olahraga meningkat.
- Keamanan saat berlari: sistem dirancang untuk memberi peringatan atau panduan yang membantu menghindari rintangan dan mempertahankan arah.
- Peningkatan partisipasi olahraga: akses yang lebih mudah mendorong lebih banyak orang untuk rutin berolahraga, memberikan manfaat kesehatan jangka panjang.
- Skalabilitas dampak sosial: solusi yang hemat biaya dan hemat energi lebih mungkin diadopsi komunitas dan organisasi sosial.
Tantangan pengembangan: efisiensi, akurasi, dan biaya
Perjalanan Labmino tidak lepas dari hambatan teknis. Menghadirkan AI yang cukup akurat untuk navigasi saat berlari sekaligus tetap ringan dan hemat daya adalah tantangan utama. Alat yang berat atau boros baterai akan menurunkan kenyamanan dan keselamatan pengguna.
Proses pengembangan melibatkan uji coba untuk menyeimbangkan performa AI dengan keterbatasan perangkat wearable. Tim harus mengoptimasi model sehingga respons cepat tetap terjaga saat kondisi gerak intens, dan komponen fisik tetap terjangkau.
- Penyusunan konsep berdasar kebutuhan pengguna dan konteks lapangan.
- Pengembangan prototipe yang diuji dalam skenario gerak nyata.
- Optimasi perangkat lunak untuk mengurangi konsumsi energi tanpa mengorbankan akurasi.
- Evaluasi aspek biaya agar solusi lebih dapat diakses oleh masyarakat.
Dampak lebih luas: pendidikan, ekosistem inovasi, dan inspirasi
Pengakuan internasional terhadap Tim Labmino membawa dampak di beberapa level. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kontribusi tim di forum global, menegaskan pentingnya inovasi berbasis pengetahuan untuk pembangunan bangsa.
Komitmen dan dukungan dari pihak swasta juga terlihat lewat pernyataan dari Bagus Erlangga, Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, yang menyorot bagaimana AI bermakna harus memberdayakan manusia. Ucapan ini mempertegas harapan agar teknologi berjalan selaras dengan kebutuhan sosial.
Di level generasi muda, pengalaman Tim Labmino—termasuk pernyataan salah satu anggota tim, Anthony Edbert Feriyanto—menjadi contoh nyata bahwa ide berbasis empati bisa berkembang menjadi solusi berdampak. Hal ini berpotensi mendorong lebih banyak pelajar dan mahasiswa untuk mengeksplorasi proyek yang menyentuh isu-isu kemasyarakatan.
Apa yang bisa ditunggu selanjutnya
Langkah berikutnya biasanya meliputi penyempurnaan prototipe, perluasan uji lapangan, dan upaya kolaborasi dengan komunitas pengguna serta pihak-pihak yang bisa mendukung produksi massal. Jika fokus pada biaya dan energi terus dijaga, adopsi lebih luas menjadi lebih realistis.
RunSight bukan sekadar perangkat; ia berfungsi sebagai contoh bagaimana teknologi yang dirancang dengan empati dapat membuka akses, memperluas partisipasi, dan menginspirasi ekosistem inovasi di dalam negeri. Perkembangan seperti ini layak diikuti oleh pihak pendidikan, pembuat kebijakan, dan praktisi teknologi untuk melihat bagaimana implementasi nyata bisa menyentuh lebih banyak orang.
Momentum yang tercipta memberi sinyal bahwa solusi teknologi inklusif bisa lahir dari lingkungan akademik lokal dan memperoleh pengakuan global, selama fokus pada kegunaan praktis dan keberlanjutan tetap dijaga.