Pendiri merek jam tangan independen MING, Ming Thein, membagikan pandangannya mengenai proses desain, pemilihan material, serta alasan di balik keputusan membatasi produksi hanya pada angka tertentu. Sebelum membangun reputasi di industri horologi, Thein dikenal luas sebagai seorang fotografer profesional. Banyak pihak mengasumsikan bahwa jam tangan MING dirancang khusus agar tampil menawan di depan lensa kamera. Namun, Thein menepis anggapan tersebut dan menyatakan bahwa jam tangan hanyalah partisipan pasif dalam sesi pemotretan.
Dalam wawancara eksklusif, Thein menjelaskan bahwa jam tangan dengan banyak tekstur, refleksi, serta sudut tajam justru menghadirkan tantangan tersendiri. Karakteristik tersebut membuat bentuk jam tangan terlihat berbeda di bawah setiap pencahayaan. Alih-alih merancang jam tangan agar mudah difoto, produk justru dibayangkan dan diwujudkan terlebih dahulu sebelum akhirnya diabadikan melalui lensa kamera. Merek yang berbasis di La Chaux-de-Fonds dan Kuala Lumpur ini telah mengantongi dua penghargaan bergengsi dari ajang Grand Prix d Horlogerie de Geneve.
Alasan Pembatasan Produksi dan Margin Keuntungan
Reputasi MING sebagian besar dibangun atas dasar eksplorasi teknik yang tidak biasa. Salah satu contoh paling menonjol adalah penciptaan LW.01, yakni jam tangan mekanis produksi yang memiliki bobot sangat ringan hanya 8,8 gram. Terbaru, merek independen ini meluncurkan MING 57.09 Secret Honey, sebuah proyek kolaborasi eksklusif dengan Massena LAB yang hanya diproduksi sebanyak 125 unit di seluruh dunia.
Bagi para pengamat yang bertanya-tanya mengenai keuntungan dari pembatasan produksi dalam jumlah kecil, jawaban eksklusivitas bukanlah satu-satunya alasan utama. Thein secara terbuka menyatakan bahwa produksi terbatas justru mendatangkan margin keuntungan yang sangat rendah. Tanpa adanya skala ekonomi, biaya komponen dasar berada pada batas pemesanan minimum atau MOQ dari pemasok. Meningkatkan jumlah produksi secara masif justru akan mengorbankan tingkat layanan pelanggan serta kedekatan interaksi langsung dengan para kolektor setia.
Kompleksitas Material dan Kolaborasi Desain
Pendekatan tanpa cela tersebut juga terlihat jelas pada pemilihan material bodi jam tangan. MING tercatat telah meninggalkan penggunaan logam mulia karena faktor inflasi dan volatilitas pasar yang membuat bahan tersebut kurang kompetitif jika dibandingkan dengan alternatif lainnya. Selain itu, bahan magnesium yang sempat diuji coba pada proyek LW.01 juga harus ditinggalkan karena ketahanan terhadap korosi yang dinilai belum memenuhi standar optimal.
Pada proyek kolaborasi MING 57.09 Secret Honey yang dibanderol seharga mulai Rp155,6 jutaan ($8,789) sebelum pajak, Thein menyoroti bagian lug sebagai elemen teknik yang paling menonjol. Setiap tingkat pada bodi casing bertingkat tiga tersebut mengusung sentuhan akhir yang berbeda. Bagian luar menggunakan titanium alami, lapisan tengah memakai TiN untuk memunculkan rona warna emas kuning, sementara bagian dalam menggunakan TiSiN untuk menghadirkan nuansa warna rose gold.
Komponen Terpisah dan Apresiasi Perangkat Kebugaran
Kompleksitas warna tersebut hanya dapat diwujudkan berkat konstruksi lug yang dirangkai dari komponen-komponen terpisah, bukan dipahat dari satu blok material tunggal. Spesifikasi internal MING mencatat ada sembilan komponen terpisah yang dirakit untuk membentuk struktur lug tersebut. Kolaborasi bersama William Massena juga memberikan kebebasan bagi MING untuk mengadopsi bahasa desain yang lebih eksperimental, termasuk penggunaan palet warna hangat dan kembalinya angka Arab pada bagian dial.
Di luar dunia horologi mekanis konvensional, Thein ternyata juga mengapresiasi perkembangan teknologi perangkat sandang modern. Ketika ditanya mengenai perangkat non-MING yang ia miliki, pilihannya jatuh pada Apple Watch Ultra 3 yang saat ini ditawarkan seharga Rp12,4 jutaan ($699) di Amazon. Hingga saat ini, ia tetap memanfaatkan berbagai fitur kesehatan dan kebugaran yang disematkan pada smartwatch tersebut untuk mendukung rutinitas hariannya.