China menetapkan target menjadi pemimpin dunia dalam penggunaan awal baterai solid-state secara besar-besaran pada 2030. Target ini tercantum dalam rencana pengembangan industri baterai periode 2026-2030, sekaligus memberi arah baru bagi kendaraan listrik, produsen sel, dan rantai pasok mineral.
Rencana tersebut belum berarti baterai solid-state langsung diproduksi massal dengan harga terjangkau. Namun, dukungan resmi dari tujuh lembaga pemerintah memperlihatkan bahwa teknologi ini mulai diperlakukan sebagai agenda industri jangka panjang, bukan sekadar purwarupa untuk pameran teknologi.
China Menetapkan Peta Jalan hingga 2030
Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China menerbitkan rencana pengembangan industri baterai untuk periode lima tahun ke-15, mencakup 2026 hingga 2030. Dokumen bertanggal 14 September itu diterbitkan bersama Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, Kementerian Transportasi, serta empat lembaga pemerintah lain.
Isi rencana berfokus pada penggunaan awal baterai solid-state dalam skala besar pada akhir periode tersebut. Frasa ini penting. Pemerintah China menetapkan arah penerapan industri, tetapi tidak menjanjikan seluruh mobil listrik akan segera memakai teknologi tersebut dengan biaya setara baterai lithium-ion saat ini.
Langkah ini juga selaras dengan rencana terpisah untuk industri kendaraan energi baru cerdas dan terhubung, yang menargetkan pangsa 70 persen dari penjualan mobil penumpang baru pada 2030. Baterai menjadi fondasi utama dari sasaran tersebut.
Masalah Teknis yang Harus Diselesaikan
Regulator China mengarahkan produsen untuk mempercepat peningkatan konduktivitas ion dan kestabilan siklus. Dua aspek ini menentukan seberapa cepat energi berpindah di dalam sel serta seberapa lama baterai dapat mempertahankan kinerja setelah digunakan berulang kali.
Prioritas lain mencakup kontak antarmuka yang lebih baik, usia pakai lebih panjang, rekayasa sistem tekanan, dan produksi massal elektrolit padat berkinerja tinggi. Produsen juga didorong memasangkan katode bertegangan serta kapasitas tinggi dengan anoda litium metal atau rancangan tanpa anoda.
Peralatan produksi ikut mendapat perhatian. Rencana tersebut menyebut mesin pengepresan isostatik, perangkat yang diperlukan untuk menghadirkan tekanan dan panas ekstrem selama pembuatan sel solid-state.
Teknologinya masih menuntut proses rumit.
Target Daya Tahan dan Kualitas Produksi
China ingin baterai litium mencapai masa pakai 15.000 siklus pengisian dan pengosongan. Angka ini menunjukkan ambisi jangka panjang terhadap daya tahan, meski bahan sumber tidak menjelaskan apakah target tersebut berlaku seragam untuk seluruh jenis sel, kendaraan, atau kondisi pemakaian.
Produsen terkemuka juga diharapkan menurunkan tingkat cacat produksi hingga level bagian per miliar. Target tersebut sangat ketat karena produksi dalam volume besar membutuhkan konsistensi antar-sel, bukan hanya keberhasilan beberapa unit uji.
Selain solid-state, pemerintah China mendorong baterai natrium dan menyebut baterai aliran sebagai pelengkap bagi teknologi litium. Pendekatan ini memperlihatkan upaya memperluas pilihan penyimpanan energi, bukan mengganti seluruh teknologi dalam satu langkah.
CATL, NIO, dan Fase Awal Kendaraan Premium
CATL sebelumnya memperkirakan baterai solid-state akan tetap menjadi produk khusus hingga 2030 karena biaya dan kebutuhan pengembangannya tinggi. Perusahaan itu tetap merencanakan penerapan pada 2027, sejalan dengan rencana sejumlah produsen lain seperti Toyota dan Samsung.
NIO pernah meminta CATL membantu mengembangkan baterai dengan 95 persen elektroda solid-state. Setelah tawaran itu ditolak karena dinilai terlalu mahal dan menyita banyak usaha, NIO mengembangkan teknologi tersebut bersama perusahaan rintisan.
Gelombang awal penerapan kemungkinan ditujukan untuk kendaraan listrik premium, drone, dan robot. Dukungan pemerintah China dapat mempercepat pembangunan kapasitas produksi sehingga teknologi tersebut berpeluang merambah mobil listrik yang lebih terjangkau menjelang 2030.
Rantai Pasok, Daur Ulang, dan Akses ke Eropa
Rencana Beijing juga mencakup penggabungan dan restrukturisasi industri, dengan tujuan membentuk lebih sedikit produsen baterai yang memiliki kekuatan lebih besar. Pemerintah turut mendorong pengembangan sumber daya litium dan kobalt domestik.
Perusahaan diwajibkan membangun pengumpulan baterai bekas sesuai volume penjualan serta didorong mendirikan fasilitas daur ulang di pasar ekspor utama. Sistem identitas digital untuk baterai kendaraan listrik dan skema paspor baterai juga masuk agenda, bersama pengakuan timbal balik data jejak karbon.
Langkah ini dapat membantu produsen China memenuhi tuntutan pasar Eropa melalui produksi dan daur ulang lokal. Bagi konsumen, dampaknya baru akan terasa ketika teknologi, biaya, kapasitas pabrik, dan jaringan pengelolaan baterai bergerak serempak.
China Memasang Fondasi Dekade Baterai Berikutnya
Target 2030 menunjukkan bahwa baterai solid-state belum menjadi pilihan utama kendaraan listrik saat ini, tetapi sudah memperoleh dukungan kelembagaan untuk keluar dari tahap purwarupa dan produksi kecil. CATL, NIO, Toyota, dan Samsung akan menjadi bagian dari fase awal, terutama pada kendaraan premium serta perangkat khusus.
Bagi industri, indikator terpenting bukan sekadar tanggal penerapan, melainkan pencapaian konduktivitas, usia pakai 15.000 siklus, tingkat cacat bagian per miliar, dan biaya produksi yang sesuai kebutuhan pasar. Bagi calon pembeli kendaraan listrik, teknologi ini layak dipantau, tetapi keputusan pembelian tetap perlu bertumpu pada produk yang benar-benar tersedia, harga resmi, dan dukungan layanan.