iPhone Duo yang menjadi smartphone lipat perdana garapan Apple memperlihatkan dinamika harga yang unik di pasar Tiongkok. Perangkat premium ini sempat diterpa gelombang permintaan tinggi hingga lonjakan harga dari para calo saat hari pertama peluncuran. Namun, situasi berbalik cepat hanya dalam hitungan hari ketika sejumlah saluran e-commerce mulai menawarkan potongan harga di bawah tarif resmi peluncuran.
Langkah pemangkasan harga ini hadir melalui program subsidi khusus di platform daring. Tren ini terbilang kontras dengan kelangkaan stok yang masih membayangi gerai resmi Apple. Di satu sisi, konsumen harus mengantre lama di toko resmi. Di sisi lain, penjual pihak ketiga justru memangkas harga untuk menarik pembeli.
Potongan Harga E-Commerce di Tengah Kelangkaan Resmi
Pada hari peluncuran perdana, iPhone Duo dijual dengan harga markup berkisar antara Rp3,9 jutaan ($220) hingga Rp5,3 jutaan ($300) di atas harga eceran resmi pada pasar sekunder. Peningkatan harga tersebut dipicu oleh tingginya antusiasme pasar Tiongkok terhadap gawai lipat perdana Apple. Namun, fenomena markup tersebut tidak bertahan lama. Hanya dua hari berselang, daftar harga di sejumlah platform e-commerce justru berada di bawah tarif resmi yang ditetapkan Apple.
Platform e-commerce besar seperti Pinduoduo mulai memasukkan iPhone Duo ke dalam program Subsidi 10 Miliar Yuan khusus untuk wilayah tertentu. Melalui kanal ini, pembeli mendapatkan potongan harga sekitar Rp531 ribuan ($30) hingga Rp797 ribuan ($45) dari harga rilis awal. Sebagai catatan, model dasar iPhone Duo varian 256GB resmi diluncurkan dengan banderol 15,999 yuan atau setara Rp42,4 jutaan (¥15,999), dengan varian kapasitas penyimpanan lebih tinggi yang dijual jauh di atas angka tersebut.
Di saat penjual daring menawarkan diskon tipis, gerai resmi Apple Store di Tiongkok justru mengalami keterbatasan stok. Pembeli yang datang langsung ke toko fisik sebagian besar tidak mendapatkan unit secara langsung. Stok fisik sangat terbatas. Sementara itu, konsumen yang memesan secara daring melalui situs resmi Apple harus menghadapi jadwal pengiriman yang cukup lama, bahkan mengular hingga Januari tahun depan untuk opsi konfigurasi tertentu.
Celah antara ketersediaan pasokan resmi dan fleksibilitas kanal distributor Pinduoduo memperlihatkan pola distribusi yang kontras di Tanah Air Tiongkok. Distributor pihak ketiga memiliki ruang gerak lebih fleksibel untuk memutar kas. Mereka memilih memotong margin tipis demi akselerasi penjualan.
Proyeksi Jangka Panjang dan Dominasi Pasar Ponsel Lipat
Meskipun potongan harga awal ini memicu beragam spekulasi, analis industri menilai bahwa permintaan jangka panjang terhadap iPhone Duo tetap sangat solid. Penyesuaian harga di kanal e-commerce dianggap sebagai respons dinamika pasar lokal, bukan pertanda surutnya minat pembeli. Ekspektasi pasar terhadap perangkat lipat besutan Apple ini masih tergolong tinggi.
Firma riset pasar ternama IDC memperkirakan bahwa iPhone Duo mampu mengapalkan lebih dari 10 juta unit pada tahun pertama debutnya di pasar global. IDC juga memproyeksikan bahwa Apple berpotensi menguasai sekitar 40 persen pangsa pasar smartphone lipat secara global pada tahun 2027. Angka ini menegaskan posisi Apple sebagai pemain kunci yang siap menggeser peta persaingan ponsel lipat.
Optimisme serupa disampaikan oleh lembaga keuangan ternama Goldman Sachs. Analis Goldman Sachs memproyeksikan pengiriman iPhone Duo bakal mencapai 13 juta unit pada tahun 2026. Angka tersebut diperkirakan terus meroket hingga menyentuh 33 juta unit pada tahun 2027 mendatang seiring kian matangnya lini produksi dan ekosistem aplikasi lipat.
Untuk saat ini, munculnya harga di bawah daftar resmi memberikan celah bagi calon pembeli di wilayah tertentu untuk mengamankan iPhone Duo dengan lebih cepat tanpa harus menunggu masa inden resmi Apple yang berkepanjangan. Ketersediaan unit dan besaran diskon diprediksi masih akan terus berfluktuasi sampai tingkat produksi Apple benar-benar stabil untuk menyelesaikan seluruh tumpukan pesanan yang ada.



