OpenAI secara resmi memperkenalkan model AI kecerdasan buatan terbaru bernama GPT-6 Cyber pada 5 November. Perangkat lunak ini dirancang khusus untuk mendeteksi kelemahan dalam sistem perangkat lunak, mengonfirmasi celah melalui pengujian serangan nyata, serta beroperasi dalam batasan ketat yang ditetapkan peneliti keamanan. Langkah ini diambil untuk memperkuat infrastruktur pertahanan siber dari potensi peretasan berbahaya.
Risikonya tergolong sangat tinggi. Dalam penilaian internal Preparedness Framework milik OpenAI, GPT-6 Cyber mendapatkan rating risiko "Critical". Tingkat risiko ini merupakan yang tertinggi dalam skema evaluasi OpenAI, meningkat dari pendahulunya, GPT-5.6 Cyber, yang berada pada kategori "High". Akibatnya, akses terhadap model AI ini dijaga sangat ketat.
Rating Risiko Critical dan Pembatasan Akses Ketat
Akses publik resmi ditutup. GPT-6 Cyber tidak dirilis sebagai bagian dari layanan ChatGPT harian. OpenAI memilih untuk menyediakannya secara terbatas melalui API dan Codex hanya kepada kelompok pengguna yang lolos verifikasi dalam program Daybreak Red. Program ini ditujukan khusus untuk pekerjaan keamanan ofensif, seperti pengujian penetrasi terotorisasi (authorized penetration testing). Ke depan, OpenAI berencana membuka akses ke seluruh basis pengguna Daybreak Red.
Untuk mengamankan penggunaan model ini, OpenAI menerapkan sistem keamanan berlapis. Pengguna wajib mendaftarkan alamat IP (IP allowlists) secara default. Sistem juga memantau kredensial dari potensi pencurian data. OpenAI menegaskan bahwa sistem otomatis akan memblokir bantuan untuk serangan yang mengincar fasilitas vital, seperti pembangkit listrik, fasilitas pengolahan air, dan sistem kontrol industri.
Kemampuan ExploitGym dan Pengujian Lingkup Kerja
Peningkatan performa GPT-6 Cyber terlihat jelas pada pengujian tolok ukur (benchmark). Saat diuji menggunakan ExploitGym - sebuah pengujian yang meminta model mengeksploitasi celah keamanan pada sistem jarak jauh - GPT-6 Cyber berhasil menyelesaikan 48.5% tugas. Angka ini meningkat drastis jika dibandingkan dengan GPT-5.6 Cyber yang hanya mencatatkan tingkat keberhasilan 32.1%.
Pengujian dilakukan sangat ketat. OpenAI menguji sejauh mana model ini mampu mematuhi batasan penugasan. Berdasarkan laporan OpenAI, GPT-6 Cyber mampu menghindari eksploitasi pada layanan di luar lingkup penugasan (out-of-scope) hingga 99.93% pengujian tanpa perlu prompt instruksi khusus. Kendati demikian, OpenAI menolak membeberkan detail mengenai 0.07% pengujian sisanya saat dikonfirmasi.
Temuan 81 Celah Firefox dan Ribuan Vulnerability Linux Kernel
Keandalan GPT-6 Cyber terbukti langsung dalam uji coba sistem operasi dan browser populer. Peneliti OpenAI menggunakan model ini untuk mengidentifikasi 81 celah keamanan tingkat tinggi (high-severity flaws) yang sebelumnya tidak diketahui pada browser Firefox. Mozilla mengonfirmasi hal ini dalam penasihat keamanan untuk Firefox 159 yang terbit pada 27 Oktober, dengan mengreditkan OpenAI atas temuan 41 dari 167 kerentanan yang telah diperbaiki. Pengguna diimbau memastikan browser sudah diperbarui ke versi Firefox 159.0.1, atau versi rilis dukungan perpanjangan ESR 153.6 dan 115.44.
Ekstensi Claude Code di Cursor Disusupi Backdoor SSH, 5.000 Pengembang Terdampak
Dampak terbesar terjadi pada ekosistem Linux kernel. Model AI ini berhasil mereproduksi 1.724 kerentanan dan membuat eksploitasi aktif untuk 948 di antaranya. Peretas bisa mendapat akses root. Peneliti OpenAI telah melaporkan 304 temuan kritikal beserta draf tambalan (patch) kepada pengembang Linux kernel.
Pembaruan sistem wajib segera dilakukan. Distributor sistem operasi seperti Ubuntu dan Fedora memerlukan waktu untuk menyalurkan pembaruan patch tersebut ke pengguna akhir. Oleh karena itu, pengguna disarankan segera menginstal pembaruan kernel secara berkala dalam beberapa pekan mendatang demi mencegah eksploitasi keamanan.



