Muse 300 hadir sebagai perangkat desktop DAC dan headphone amplifier pertama yang membawa sistem operasi bawaan. Keunikan ini muncul dalam bentuk layar IPS 5 inci beresolusi 480 x 854 piksel yang memungkinkan pengguna berinteraksi langsung dengan Muse OS. Tidak hanya sekadar mengatur audio, layar ini juga bisa digunakan sebagai layar kedua untuk komputer.
- Controller utama menggunakan 32-bit MCU yang menjanjikan kecepatan respons
- DAC ES9039 Ultra yang dikenal di kalangan audiophile
- Konektivitas lengkap: USB, coaxial, optical, dan Bluetooth
- Output audio profesional dengan RCA dan XLR ganda serta headphone out 6.35mm dan 4.4mm
Muse 300: Sistem Operasi dan Performa Audio
Memiliki OS sendiri, Muse 300 menawarkan kontrol yang lebih mendalam lewat antarmuka yang interaktif. Namun pertanyaannya, seberapa penting OS ini dalam konteks sebuah DAC? Di satu sisi, ini bisa membuka peluang fitur baru dan update perangkat lunak. Di sisi lain, sistem operasi berarti potensi bug dan kebutuhan update yang mungkin bikin repot pengguna yang cuma ingin mendengar audio lancar tanpa gangguan.
Spesifikasi Hardware yang Menjanjikan
Muse 300 memakai chip DAC ES9039 Ultra dan rangkaian amplifier TP6120A ganda. Ini memberikan potensi kualitas suara yang solid. Sayangnya, belum ada data resmi soal kualitas suara final atau bagaimana kombinasi hardware dan OS ini bekerja dalam praktik. Jadi, klaim ‘pertama dengan OS’ memang menarik, tapi hasil akhirnya tetap harus diuji di lapangan.
Konektivitas dan Fitur Tambahan
Selain input USB, coaxial, optical, dan Bluetooth, Muse 300 juga menyediakan output headphone dual dan line out yang lengkap. Fitur layar yang bisa jadi layar kedua komputer bisa jadi nilai tambah yang unik, tapi juga terasa agak gimmick kalau tidak dimanfaatkan optimal. Untuk pengguna yang fokus audio murni, fitur ini mungkin kurang relevan.
FiiO K11 sebagai Alternatif yang Sudah Terbukti
Bagi yang tidak sabar menunggu Muse 300, FiiO K11 adalah pilihan masuk akal. Harganya sekitar $143 atau sekitar Rp2,2 juta, dengan dukungan USB/coaxial/optical dan output yang cukup kuat untuk headphone berimpedansi tinggi. Meski tanpa OS, K11 sudah terbukti stabil dan cukup bertenaga untuk kebutuhan desktop DAC sehari-hari.
Jadi, Pilih yang Mana?
Muse 300 menarik bagi mereka yang suka bereksperimen dengan teknologi baru dan ingin fitur layar sentuh plus OS di perangkat audio. Namun, bagi yang mengutamakan kestabilan dan kualitas suara terbukti, FiiO K11 bisa jadi opsi lebih aman dan hemat. Pilih Muse 300 jika Anda butuh inovasi dan kontrol ekstra, dan pilih K11 jika Anda mengutamakan kesederhanaan serta performa konsisten.
Harga dan Verdict
Muse 300 masih dalam tahap pre-launch Kickstarter, jadi harga resmi belum diumumkan. Sementara itu, FiiO K11 dijual sekitar Rp2,2 juta di pasar internasional. Kesimpulannya, ambil Muse 300 jika ingin perangkat DAC desktop yang beda dengan fitur OS dan layar sentuh. Skip jika Anda mengutamakan perangkat yang sudah terbukti dan tanpa risiko bug sistem operasi. FiiO K11 adalah pilihan bijak untuk yang butuh DAC desktop stabil dengan harga terjangkau.
(Via)







